Usaha Kecil Rumahan Yang Tak Pernah Surut, Usaha Slondok Magelang

Usaha Kecil Rumahan  – Salah satu camilan khas dari daerah Magelang adalah slondok. Camilan sederhana ini berasal dari tepung berbahan singkong atau tepung tapioka yang diberi aneka bumbu dan dibentuk seperti pita memanjang dan dipotong setiap 7 -10 cm.

Usaha Kecil Rumahan Yang Tak Pernah Surut, Usaha Slondok Magelang
Image : magelangonline.com

Penganan kecil khas ini begitu populer hingga dengan mudah Anda temukan di berbagai kota sekitar Magelang, termasuk di kota Yogya dan Solo. Meski sudah demikian populer, ternyata pasar tidak juga bosan dan malah semakin hari permintaan di pasar terus saja berkembang.

Itulah sebabnya layak saja kalau usaha produksi slondok ini masuk dalam kategori usaha kecil rumahan yang sangat potensial. Kenyataanya usaha produksi slondok ini selalu berawal dari usaha kecil rumahan. Berawal dari skala dapur rumah tangga dalam jumlah produksi terbatas.

Salah satu produsen slondok yang cukup sukses adalah bapak Mardianto dari daerah Secang Magelang. Beliau sudah mengawali usaha slondok nya sejak tahun 1985.

Beliau dan istri belajar dari salah seorang kerabatnya mengenai cara membuat slondok yang sebenarnya kala itu belum dikenal. Malah kala itu slondok indentik sebagai penganan kecil orang “kere” alias miskin, karena hanya menggunakan ampas singkong yang murah meriah.

Sebenarnya penganan ini sudah dikenal di kawasan Kulonprogo dan Magelang sejak puluhan tahun lampau. Hanya saja kala itu penganan ini belum memiliki prestis macam sekarang, malah slondok kerap dianggap makanan desa atau makanan kere.

Baru pada awal 80an beberapa orang menjajal produksi slondok secara komersial dengan munculnya trend pusat-pusat penjualan oleh-oleh di kawasan jawa Tengah dan Yogya.

Kala itu, tidak hanya pak Mardianto saja yang menjajal usaha kecil rumahan ini. Bahkan beberapa pelaku usaha bahu membahu patungan untuk memulai usaha ini dari awal. Beberapa proses produksi sebagian besar masih menggunakan cara manual karena keterbatasan alat.

Namun beberapa tahun berjalan, pelaku usaha produksi slondok mulai rontok satu persatu. Persaingan yang ketat menyebabkan semakin banyak yang tidak kuat untuk menjual sesuai target. Rontoknya pesaing-pesaing ini sangat menguntungkan pak Mardianto. Justru beliau tetap bertahan dan terus gencar berpromosi.

Pak Mardianto bahkan mencoba menembus pasar Yogya dan Solo dengan menawarkan produknya ke berbagai pusat oleh-oleh di kota-kota tersebut. Karena persaingan di pusat oleh-oleh di kota Magelang cukup ketat. Usahanya yang kala itu masih skala rumahan jelas kalah bersaing dengan usaha slondok yang sudah lebih besar.

Siapa sangka idenya untuk melebarkan sayap dengan sukses mendatangkan pembeli untuk produk slondoknya. Rasa slondok yang gurih dan renyah dengan harga yang sangat terjangkau membuatnya menarik bagi pasar. Bahkan pak Mardianto sampai kewalahan menerima pesanan.

Pak Mardianto tidak habis akal, beliau tidak menolak pesanan-pesanan tambahan ini. Justru beliau berbagi dengan rekan-rekan sedesanya untuk menggarap pesanan yang tidak sanggup beliau garap. Berkat pak Mardianto ini kemudian berdiri komunitas produsen Slondok di kawasan Secang.

Pada tahun 1999, pak Mardianto bukan lagi sekedar pemilik usaha kecil rumahan. Meski tetap bertempat di rumahnya, pak Mardianto sudah mampu menjual slondok sebanyak 200 – 500 kuintal perbulannya ke seluruh Jawa, hingga Surabaya.

Beliau sudah menjadi koordinator seluruh produksi di desanya dan bertanggung jawab dalam hal penjualan. Itu sebabnya beliau juga sudah memiliki beberapa pick up untuk ekspedisi slondok.

Produksi juga semakin baik berkat penggunaan mesin-mesin dalam proses produksi. Malah pak Mardianto juga menjadi penyalur mesin-mesin ini di kawasan Secang.  Penyaluran mesin-mesin pengolahan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi seluruh produsen di desanya. Dengan demikian pak Mardianto bisa lebih optimal dalam melayani permintaan slondok

Usaha slondok nya memang tidak sia-sia. Kini dalam sebulan beliau bisa mengumpulkan omset senilai 400 juta.Tidak heran dengan usaha slondok nya yang hanya berawal dari usaha kecil rumahan kini bisa memodali kedua anaknya merampungkan kuliah S1 di sebuah universitas swasta di kota Yogyakarta.

Meski saat ini beliau sudah mencicipi sukses, bukan berarti perjalanan panjangnya ini tanpa rintangan. Ada sangat banyak ujian yang harus beliau hadapi. Ada cukup banyak upaya dari pesaing-pesaingnya untuk merobohkan usahanya. Bahkan idenya untuk menghimpun para produsen slondok di Secang pun sempat mendapat perlawanan.

Tidak hanya itu, selama beliau giat berpromosi, beliau juga harus berhadapan dengan banyak penolakan. Beliau juga sempat menghadapi kesulitan mencari produsen yang bisa membacking pesanan yang masuk dan supplier yang siap menyetok kebutuhan singkongnya yang sangat tinggi.

Artikel lain: Usaha kecil untung besar

Tetapi dengan perjalanan waktu, pak Mardianto berhasil meyakinkan semua pesaingnya kalau dia siap bekerja sama  dan menjualkan produk slondok desanya ke seluruh pasar yang berhasil beliau jangkau.

Beliau malah berhasil mendapatkan rekanan supplier singkong yang tidak hanya siap mensuplai untuk kebutuhannya tetapi juga kebutuhan seluruh produsen slondok di desanya.

Kini bapak 2 anak ini sudah menikmati hasil dari jerih payahnya selama belasan tahun. Kedua anaknya yang sudah merampungkan kesarjanaannya di kota Yogya dan  juga sudah mapan. Anak bungsunya tampaknya tertarik untuk meneruskan usaha sang bapak. Sebuah kisah perjalanan panjang seorang pemilik usaha kecil rumahan yang sukses. –Tim Siap Bisnis